Rabu, 20 Oktober 2010

Penangkaran dan Budidaya Rusa Sambar


Budidaya Rusa UPTD BPIB Api-Api

Rusa sambar
Berawal dari pusat penangkaran rusa tahun 1990/1991 berfungsi sebagai penangkaran/budidaya rusa dan Pengembangan Hijauan Makanan Ternak, ada percontohan ternak kambing dan ayam buras. Berdasarkan surat keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur No.03 Tahun 2001 Tanggal 24 April 2001 tentang pembentukan struktur organisasi dan tatakerja dinas-dinas provinsi kalimantan timur, telah ditetapkan bahwa dinas peternakan mendapat pengembangan organisasi berupa 2 UPTD. Salah satunya adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Pembibitan dan Inseminasi Buatan (UPTD-BPIB) yang ditempatkan di Desa Api-Api Kec. Waru Kab. Penajam Paser Utara. Disamping itu pemerintah pusat telah memberikan peluang kepada daerah untuk mengembangkan Inseminasi Buatan (IB) melalui program Desentralisasi Balai Inseminasi Buatan. Untuk mendukung program tersebut pemerintah pusat telah memberikan bantuan 4 ekor sapi elite Bull yang terdiri dari 2 ekor sapi jenis Simental dan 2 ekor sapi jenis Limousine yang telah diterima bulan desember 2001.

Lokasi

UPTD BPIB Api-Api terletak di Jl. Negara KM 32 Desa Api-Api Kec. Waru Kab. Penajam Paser Utara Provinsi kalimantan timur. Luas areal 50 ha, dari luas areal tersebut 30 ha digunakan untuk lahan tanaman hijauan makanan ternak, selebihnya digunakan untuk bangunan perkantoran, laboratorium, perkandangan, gudang, rumah dinas dan jalan lingkungan.

Karakteristik
Rusa Sambar  (Rusa unicolor) termasuk golongan ruminansia yang mempunyai tingkah laku jelas berada dengan ruminansia lain, yaitu mempunyai ketajaman pendengaran, pemciuman, kecepatan melompat dan berlari cukup tinggi.
Pada umur dewasa berbadan besar, tungkai panjang, hidung gelap, dan suara khas melengking nyaring. Umumnya berwarna hitam kecoklat-coklatan dan cenderung coklat ke abu-abuan atau kemerahan, warna gelap sepanjang bagian atas. Bobot rusa Sambar dewasa (10 – 12 bulan), betina 80 – 90 kg. Panjang badan berkisar 1,5 m dan tinggi badan 1,4 – 1,6 m. bobot lahir 3 – 4 kg, sedangkan yang jantan antara 90-125 kg. Perkawinan alami secara umum berkisar antara bulan Juli sampai September, masa bunting ± 235 hari atau 7 – 8 bulan dan Calving Interval 10 – 12 bulan.

Perkembangan Ternak
Penangkaran dan budidaya rusa di Api-Api terbagi dalam 3 tahapan pengembangan yaitu : (1). Tahapan introduksi (1990-1995) metode pemeliharaan rusa masih secara otodidak melalui trial and error serta learning by doing. Selama kurun waktu ini dilakukan pengadaan rusa sebanyak 112 ekor, terjadi kelahiran 25 ekor, kematian 101 ekor sehingga populasi akhir 1995 sebanyak 46 ekor (jantan 19 ek, betina 27 ek), (2). Tahapan pengembangan (1996-2000), tidak ada lagi pengadaan rusa dan hanya pengembangkan rusa yang telah ada di penangkaran, (3). Tahapan komersial (2001-sekarang), Pada tahapan ini tercapai keputusan final tentang usaha budidaya (sebagai sentra bibit atau perpaduan antara usaha murni peternakan komersial dan kemitraan) serta keputusan “pengenalan” pada dunia usaha peternakan. Populasi sampai akhir Desember 2009 Sebanyak 217 ekor.

Tantangan dan Peluang

Rusa merupakan jenis ternak yang mempunyai potensi ekonomi tinggi, karena hampir seluruh bagian tubuh bisa dimanfaatkan, antara lain daging sebagai sumber protein, tanduk muda (velvet) sebagai bahan baku  obat tradisional, tanduk tua (antler) sebagai bahan industri, kulit sebagai bahan baku industri penyamakan kulit.
Rusa mempunyai potensi produksi daging yang tinggi dengan keunggulan menghasilkan karkas sebesar 56-58 % dibandingkan dengan sapi yang hanya 51-55 % dan domba 44-50 % (Semiadi, G. 1998). Daging rusa yang disebut venison, dikenal karena rendah kandungan kolesterol dan lemak, selain dari sifat dagingnya yang empuk, rasa yang spesifik (gamey flavour) dan rendah kalori. Hal inilah yang dicari oleh para konsumen tingkat menengah keatas dimasa kini.
Melihat dari potensi tersebut di atas, ternak rusa mempunyai prospek yang cukup menarik dikembangkan sebagai komoditi unggulan baru di bidang peternakan yang bisa diusahakan ke arah agribisnis dan agroindustri, bahkan sangat dimungkinkan untuk dikembangkan ke arah pengembangan agrowisata sebagai salah satu objek wisata dengan tetap menjaga kelestariannya.

   Perbandingan kandungan nutrisi daging rusa dengan ternak lainnya per 100 gram
Ternak
Kalori
(kkal)
Lemak
(gram)
Kolesterol
(mgr)
Protein
(gram)
Rusa merah
Sapi potong
Babi
Domba
Ayam
Kalkun
Ikan Salmon
159
214
219
178
159
154
138
3,30
9,76
10,64
7,62
3,42
3,45
5,75
66
92
101
83
83
68
39
25
31
29
25
31
29
20
  Sumber : Semiadi, G. Budidaya Rusa Tropika sebagai
                Hewan Ternak, 1998.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar